Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 15 November 2018 | 00:50 WIB

Idrus Marham (Nominator Polling INILAH.COM)

Politikus Penggerak & Konseptor

Oleh : R Ferdian Andi R | Selasa, 15 Februari 2011 | 00:06 WIB

Berita Terkait

Politikus Penggerak & Konseptor
Idrus Marham - foto: istimewa

INILAH.COM, Jakarta - Idrus Marham merupakan salah satu tokoh muda moncer dari Partai Golkar. Namanya malang melintang di dunia aktivis mahasiswa dan pemuda. Ia kini dipercaya sebagai Sekjen DPP Partai Golkar. Bagaimana kiprah dan sepak terjangnya?

Profil Polling Politisi Senayan Terpopuler

Idrus Marham bisa disebut sebagai simbol perubahan di Partai Golkar. Dirinya tercatat sebagai Sekjen pertama dari kalangan sipil. Sejak Golkar berdiri, Sekjen Golkar selaku berasal dari kalangan militer. Yang terakhir di era Jusuf Kalla, Sekjen Golkar juga dari kalangan militer yakni Soemarsono.

Pria kelahiran Pinrang, Sulawesi Selatan, 14 Agustus 1962 ini hidupnya lekat dengan organisasi. Sejak tingkat sekolah menengah, ia aktif di Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan berlanjut hingga masa kuliah

"Karakter saya adalah pergerakan dan perjuangan. Hal itu tercermin dalam organisasi," katanya kepada INILAH.COM di sela-sela kesibukannya sebagai Sekjen DPP Partai Golkar di ruang Fraksi Partai Golkar DPR, belum lama ini.

Aktivitasnya yang beragam di organisasi mulai dari OSIS, Senat Mahasiswa, Dewan Mahasiwa, Pelajar Islam Indonesia (PII), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) serta Pergerakan Mahasiwa Islam Indonesia (PMII) ikut memperkaya pengalamannya.

Ditambah lagi kegiatannya di Generasi Muda Kosgoro, Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI), Ketua Umum Badan Komunikasi Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), Karang Taruna, Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) periode 2002-2005, serta Wakil Pemuda Dunia pada 2005.

Meski aktivis tulen, doktor bidang ilmu politik Universitas Gadjah Mada (UGM) ini tidak mengabaikan pendidikan. Hal ini terlihat dari prestasi yang dicapai di bidang akademik. Dia tercatat sebagai pelajar teladan sejak tingkat SD, SLTP, SLTA, hingga kuliah. Dia tercatat sebagai mahasiswa teladan dan sarjana terbaik di tingkat fakultas dan universitas di IAIN Walisongo, Semarang.

Alasan Idrus masuk dan terjun ke politik praktis tidak terlepas dari pandangannya bahwa perjuangan yang efektif yakni melalui jalur politik. Apalagi menurut Idrus, pasca-reformasi 1998, membuka peluang terhadap partai politik untuk melakukan perubahan melalui mekanisme legislatif.

Mau tidak mau, sambung Idrus, perubahan harus dilakukan melalui mekanisme kekuasaan. "Ada tiga hal yang saling terkait dan tidak bisa dipisah yakni kekuasaan, konsep dan arah perjuangan untuk kepentingan bangsa," tandasnya.

Konsekwensi dari ide tersebut, menurut Idrus dalam mendapatkan kekuasaan tidak boleh menghalalkan segala cara. Oleh karenanya, dalam pandangan Idrus, kekuasaan diraih dalam rangka untuk menjalankan konsep dan ide.

"Namun banyak dari kita, berkuasa tidak berproses. Padahal, orang yang berkuasa tanpa konsep mudah dirongrong, karena tidak memiliki konsep," kritik ayah satu anak ini.

Nama Idrus di parlemen juga cukup moncer. Saat Panitia Khusus Angket Century pada 2009-2010 lalu, dia membuktikan keraguan publik atas komitmennya mengungkap kasus Bank Century dalam kapasitasnya sebagai Ketua Pansus Century.

Dalam berbagai kesempatan, Idrus kerap menekankan berpolitik jangan sampai melakukan pola intrik antara satu dengan lainnya. Idrus selalu menekankan berpolitik dengan ide, konsep dan fakta. Terjauhkan dari syak wasangka satu sama lain.

Anggota Komisi Pemerintahan Dalam Negeri ini (Komisi II) termasuk pelaku sejarah dalam perubahan sistem politik di Tanah Air. Di Partai Golkar, kini ia juga memimpin Tim Perubahan Paket UU Politik.

Bagi Idrus pikiran dan ide yang tertuangkan dalam kebijakan merupakan bagian penting dalam perjuangannya. "Saya selalu bicara pada pikiran, pada penataan demokratisasi serta perubahan paradigma pembanguan. Jadi pikirkan dampaknya ke kebijakan," cetus Idrus.

Karir Idrus di parlemen kali pertama ia mulai sejak Pemilu 1997. Ia mewakili utusan golongan sebagai Anggota MPR (1997-1999), anggota DPR/MPR 1999-2004, anggota DPR/MPR 2004-2009, serta anggota DPR/MPR 2009-2014.

Sosok pemikir memang identik dengan Idrus Marham. Jauh sebelum menjadi politisi, Idrus juga pernah berkarir sebagai dosen di sejumlah perguruan tinggi di Jakarta. Dia pernah menjadi dosen di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag), Universitas Tarumanegara, STIE Jaya dan STMII Jakarta.

Bahkan, Idrus juga pernah didaulat sebagai Pembantu Rektor III di Universitas Islam Attahiriyyah (Uniat), serta Sekretaris Umum Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam se-DKI Jakarta.

Di samping sebagai dosen, berbagai penelitian juga pernah Idrus lakukan baik secara pribadi maupun bersama rekan-rekannya. Tidak sekadar itu, Idrus juga menulis beberapa buku seperti "Pemuda dan Dinamika Kebangsaan", "Nyala Api Kebangsaan", "Agama dan Pembangunan" dan lain-lain.

Meski telah banyak hal yang ia lakukan di kancah politik, bukan berarti Idrus tak memiliki mimpi. Setidaknya hingga saat ini, ia memimpikan tradisi politik dan perdebatan di dalamnya diwanai dengan perdebatan konseptual. "Saat ini masih didominasi politik intrik," cetusnya.

Idrus yang memiliki motto hidup "Maju total atau mundur total" ini memiliki prinsip jika melakukan sesuatu tidak dengan cara setengah-setengah. Jejak rekam yang kompleks yang dimiliki Idrus menjadi modal penting kader NU ini berkiprah hingga kini dipercaya sebagai Sekjen Partai Golkar. Jiwa pergerakan dan konseptor menjadi modal penting bagi Idrus duduk sebagai jajaran elit Partai Golkar. [mdr]

Komentar

Embed Widget
x