INILAH.COM, Jakarta - Penggagas Liga Primer Indonesia Arifin Panigoro menanggapi enteng tekanan-tekanan yang terus dilakukan oleh kelompok 78 kepada Komite Normalisasi di Kongres PSSI.
Seperti diketahui, Kongres PSSI yang berlangsung di Ballroom Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Jumat (20/5/2011) WIB kacau balau dan ricuh karena egoisme para peserta yang tidak menunjung etika dan tata krama berkongres. Padahal, kongres ttersebut langsung di bawah supervisi dan pemantauan Federasi Asosiasi Sepakbola Internasional selaku otoritas sepakbola tertinggi di dunia.
Segerombolan peserta kongres yang biasa dikenal dengan kelompok 78 terus menerus meminta Komite Normalisasi agar mengagendakan mendegarkan penjelasan keputusan Komite Banding Pemilihan yang meloloskan berkas banding Arifin Panigoro (AP) dan George Toisutta (GT). Padahal, FIFA telah mendiskualifikasi kedua orang tersebut melalui sejumlah surat resmi maupun penjelasan langsung di forum kongres tersebut. Penjelasan itu disampaikan oleh Direktur Asosiasi dan Pengembangan FIFA Thiery Regennas yang hadir mewakili FIFA.
Namun, hal itu tidak dikabulkan oleh Ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar karena hal tersebut tidak terdapat dalam agenda kongres. Agum mengingatkan bahwa kongres tersebut adalah kongres luar biasa yang dimandatkan FIFA hanya mengagendakan pemilihan ketua umum, wakil ketua umum, dan sembilan anggota Komite Eksekutif PSSI 2011-2015.
Namun, kelompok pendukung AP dan GT terus memaksakan kehendak mereka bahkan ada pula yang mengancam melengserkan Agum, pejabat yang ditunjuk langsung FIFA selaku otoritas sepakbola dunia, untuk mempersiapkan dan menggelar kongres. Sekitar lima jam kongres hanya berkutat pada masalah itu dan hujan interupsi datang silih berganti tiada henti. Suasana kongres pun tak bahnya seperti parlemen jalanan yang diwarnai teriakan-teriakan orasi silih berganti.
Karena dianggap suasana kongres sudah tidak lagi kondusif, akhirnya Ketua KN yang juga pemimpin kongres memutuskan untuk menutup kongres PSSI pada sekitar pukul 20.45 WIB.
Menanggapi ulah tidak tertib kelompok 78 pada saat kongres, Arfin yang ditemui wartawan Hotel Sahid, Jakarta, Sabtu (21/5/2011), menanggapi enteng hal itu. Dia bahkan menganalogikan kongres PSSI tersebut dengan sidang DPR, meski keduanya jelas berbeda bidang dan levelnya. Sidang DPR levelnya nasional dan politis, sedangkan kongres PSSI bagian dari agenda organisasi dunia bernama FIFA.
“Biasanya sidang seperti itu harus siap alot. Kalau di DPR dulu, setahu saya bisa dua hari dua malam. Ya itu wajar, namanya juga beda pendapat," ungkapnya santai.
Lebih lanjut, Arifin juga mengungkapkan bahwa Agum Gumelar yang bertindak sebagai pemimpin kongres harus memiliki sikap kuat dan tegas tapi demokratis mengingat keputusan Kongres PSSI harus ada suara anggota.
FIFA menegaskan kongres PSSI tersebut masuk kategori kongres luar biasa. Komitte Darurat FIFA memutuskan mengambil alih penanganan PSSI yang dalam setahun terakhir dirundung kekisruhan. FIFA turun tangan karena PSSI yang menjadi anggotanya itu tak kunjung bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
FIFA kemudian membentuk Komite Normalisasi dan menunjuk Agum sebagai ketuanya guna mengambil alih kepengurusan PSSI pimpinan Nurdin halid yang dinilai tidak kredibel mengatasi masalah yang ada, termasuk keberadaan Liga Primer Indonesia ((LPI) yang digagas Arifin Panigoro dan dapat sokongan George Toisutta. Padahal, FIFA jelas-jelas mengkategorikan LPI sebagai liga sempalan.
Regennas sempat menegaskan pilihan bagi LPI dan pihak-pihak yang menyokongnya hanya punya dua pilihan, yakni tunduk di bawah FIFA dengan mengikuti kebijakan yang digariskan atau keluar dari FIFA, berdiri sendiri di luar sistem FIFA yang telah diikuti dan diakui di seluruh dunia. [nic]