Kamis, 28 Agustus 2014 | 18:03 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Trie Utami
"Untuk Mendapatkan Kedamaian"
Headline
Oleh: Vina Ramitha
Bola - Selasa, 18 Maret 2008 | 00:01 WIB
INILAH.COM, Jakarta Perempuan bernama lengkap Tri Utami Sari ini telah menjalani hidup tidak mudah. Menikah dua kali dan semuanya berakhir dengan perceraian. Bahkan pada pernikahan terakhir, ia memilih berpisah setelah 10 tahun bersama, karena tidak ingin dimadu.

Keputusan itu bersamaan dengan niatnya melepas jilbab, sesuatu yang bagi kaum muslimah merupakan pantangan dan sangat dihindari. Kondisi psikologis akibat beban hidup dan tekanan jiwa itulah yang akhirnya membawa Ii', demikian ia akrab dipanggil, dalam ritual meditasi, sebuah perenungan sebagai sarana mencapai kedamaian jiwa.

Metode meditasi yang diam, mengolah rasa, mengolah badan, mengolah pernafasan, menetralkan pikiran, dan mengosongkan pikiran ini, dirasa perempuan kelahiran Bandung, 8 Januari 1968 ini mampu membuat seseorang merasa damai dan bisa berpikir lebih baik.

Berikut wawancara Trie Utami dengan INILAH.COM:

Banyak sarana meditasi, mana yang Anda pilih?
Saya sih biasanya meditasi langsung tanpa menggunakan sarana apapun. Saya menggunakan prana saja, langsung pernafasan. Bagi saya itu tidak seperti melakukan suatu ritual. Karena saya juga menari dan itu merupakan suatu meditasi. Ketika seorang penari sudah advance, dia sudah menemukan ruang dan dimensinya dan itu merupakan meditasi tersendiri. Demikian juga musik.

Kapan kita bisa menyadari suatu bentuk meditasi?
Itu bukan persoalan berapa lama mereka melakukan hal ini. Ada yang sudah lama melakukan, tetapi tidak menyadari bahwa manusia itu bergerak dengan getaran. Jadi tidak bisa menemukan vibrasinya. Ada orang yang main musik tanpa menyadari bahwa musik itu menyembuhkan. Saya tidak pernah memilih meditasi, saya menemukan ruang itu by the time karena saya bekerja di situ.

Sejak kapan Anda menyadari ruang meditasi sendiri?
Kalau untuk menari dan bermain musik itu sudah saya lakukan sejak kecil. Di tengah-tengah perjalanan melakukannya, saya menemukan ruang-ruang dan dimensi-dimensi baru. Itulah yang terjadi kalau dilakukan dengan hati, bukan karena perut atau uang. Kesadaran terhadap kesenian atau budaya itu bisa menghasilkan ruang-ruang meditasi bagi tiap orang.

Apa manfaat yang Anda rasakan?
Bagi saya hal itu merupakan suatu hal yang spiritual, ya. Kita menjadi teratur, pikiran dan hati kita menjadi lebih teratur, tertata, serta terjaga. Tingkat emosinya juga tidak lagi menjadi fluktuatif. Makin lama bisa menjadi makin halus. Sangat terkontrol. Meditasi itu kan diam, mengolah rasa, mengolah badan, mengolah pernafasan, menetralkan pikiran, mengosongkan pikiran. Sampai pada suatu titik ketika kosong tapi isi, isi tapi kosong. Tujuannya untuk menemukan kedamaian. Kalau kita sudah bisa mencapai itu maka kita bisa berpikir lebih baik.

Orang sering takut meditasi karena dianggap merupakan ritual keyakinan tertentu. Bagaimana?
Itu dia.Sebetulnya kalau orang mau mempelajarinya dengan baik sejarah agama di dunia, semuanya itu mengenal proses meditasi, proses tasyakur, proses diam, proses merenung, dan lainnya. Semua agama melakukan itu dalam bahasanya sendiri-sendiri. Shalat kan juga meditasi apabila dikerjakan dengan benar. Bahkan animisme dan dinamisme itu juga mengenal meditasi.
Saya rasa masalahnya adalah kita sering terjebak dalam pola bahasa, ya. Misalnya tasyakur, karena berasal dari bahsa Arab, maka seolah-olah menjadi milik orang Islam. Meditasi berhubungan dengan agama Budha lalu milik agama Budha. padahal tidak seperti itu.

Apa yang kita latih selama meditasi?
Sebetulnya kita berlatih mengontrol diri. Terlepas dari itu, kalau dilakukan pada titik-titik tepat, metode-metode holistik dari barat yang sebenarnya, sekarang mengacu ke timur lagi. Itu adalah pernafasan, dan cakra bisa dibangkitkan. Itu bukan mistik, bukan klenik, itu energi.
Semua orang bisa mencapai keadaan ini bila mereka mau. Kebanyakan mereka salah persepsi sehingga paradigma ini harus diperbaiki, harus lebih cerdas.
Seperti tuntutan agama bahwa orang harus bisa lebih cerdas dalam melihat dunia. Mengambil dan menggunakan teknologi dengan lebih cerdas. Artinya, ini adalah proses atau mediasi penyembuhan di mana orang kalau mau mengikutinya dengan agama yang dianutnya, dibarengi dengan tingkat spiritual yang semakin baik, maka ia akan lebih cepat proses penyembuhannya. Yang sembuh bukan penyakitnya, tapi pikirannya, hatinya juga seimbang. Dan setiap agama boleh mengikuti hal itu.

Pendapat yang mengkaitkan keikutsertaan Anda pada meditasi dengan melepas jilbab?
Oh, saya sudah sering dibilang seperti itu. Kalau sedang nyanyi di gereja, dibilang masuk Kristen, lalu kalau ikut meditasi saya jadi Budha. Saya sudah sering mendengarnya, jadi sudah imun. Saya tidak ada masalah, orang berhak berpendapat. Semakin banyak orang yang mengatakan semakin kelihatan bahwa orang Indonesia itu masih suka simbol-simbol. Orang hanya terjebak pada simbol-simbol atau ritual-ritual pola komunal. [E2/L1]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER