INILAH.COM, Jakarta - Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin berpendapat Joint Committee (JC) tidak memiliki hak membuat keputusan apapun terkait penyelesaian kisruh sepak bola Indonesia.
Pihak Djohar sendiri masih terus menggodok empat nama yang akan mewakili kubu mereka, selain empat nama lainnya dari kubu KPSI pimpinan La Nyalla Matalitti. Menurutnya, siapa pun yang masuk dalam JC dan apapun yang yang dirumuskan tidak terlalu penting, karena tetap FIFA dan AFC yang memutuskan.
"Siapa saja namanya sama. Jadi siapapun yang ngerti sepak bola, akan kita pilih. Joint Committee kan tidak punya wewenang memutuskan, hanya memeberi masukan," ujar Djohar saat ditemui usai acara drawing 14 tim finalis AQUA Danon National Cup, di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, (Kamis 14/6/2012).
Padahal JC itu sendiri dibentuk sebagai rekomendasi dari Nota Kesepahaman (MoU) antara kubu Djohar dengan kubu KPSI pimpinan La Nyalla Matalitti. Joint Committee tersebut bertugas untuk merumusakn dan menyiapkan kongres PSSI, September 2012 mendatang.
Kongres itu sendiri, selain akan mengkaji persoalan statuta PSSI, juga akan menyelesaikan kisruh dualisme kompetisi antasa Liga Super Indonesia (ISL) dan Liga Primer Indonesia (IPL), serta akan merumuskan kepengurusan baru PSSI. Dalam MoU tersebut disebutkan bahwa bahwa FIFA hanya akan berlaku sebagai supervisor kinerja joint committee hingga pelaksanaan kongres.
Saat ditanya mengenai hal itu, Djohar tetap kukuh bahwa FIFA tidak hanya sekedar mensupervisi, melainkan berperan sebagai pembuat keputusan.
"Joint Committee tidak ada wewenang memutuskan, semuanya tergantung FIFA. Mereka yang akan memutuskan," kilah Djohar.
Karena itu, Djohar mengaku akan bersikap santai dengan apapun dengan hasil yang akan dirumuskan JC terkait penyelesaian persoalan sepak bola Indonesia.
"Apa pun hasilnya nanti kami santai, yang penting Indonesia tidak kena saksi dan terselamatkan," katanya.
Menurut Djohar juga, pembentukan JC itu hanya sebuah proses biasa dalam keorganisasian PSSI, karena itu dia meminta agar publik tidak terlampau membesar-besarkannya.
"Tidak ada masalah, yang penting sekarang Indonesia terlepas dan selamat dari sanksi FIFA," tandasnya.[yob]