INILAH.COM, Milan - Pemilik klub Inter Milan, Massimo Moratti, mengaku pernah berusaha membawa kembali penyerang Manchester City, Mario Balotelli ke Giuseppe Meazza, namun gagal.
Balotelli mengenyam pendidikan sepak bolanya di akademi sepak bola ‘Nerazzurri’. Roberto Mancini, pelatih City yang kala itu membesut Inter, adalah orang yang mempromosikan ‘Super Mario’ ke tim utama Inter.
Namun di bawah arahan Jose Mourinho, Balotelli tersisih hingga pada Agustus 2010 ia bergabung kembali dengan Mancini, yang telah membesut Manchester City.
“Saya ikut senang untuk Mario karena sepertinya ia sudah merasa di rumah, Italia, dan merasa dicintai oleh orang Italia, seperti yang selalu ia inginkan,” ungkap Moratti, seperti dinukil dar La Gazzetta dello Sport.
Balotelli menjadi pahlawan Italia saat menyingkirkan Jerman 2-1 di semifinal Piala Eropa 2012 dengan memborong dua gol. Begitu peluit akhir berbunyi, ia berlari dan memeluk ibunya, yang berada di bangku penonton.
“Ini menjadi semacam penaklukkan. Saya berpikir diatas itu semua, bahwa dia mencari pengalaman yang memuaskan secara emosional. Saat dia memeluk ibunya, Anda bisa lihat semua yang saya bicarakan, tentang pemenuhan janji. Itu adalah pembuktian bahwa seseorang akhirnya menyadari bahwa ia tidak menyia-nyiakan talentanya,” lanjut sang supremo.
Moratti tak membantah jika ia berniat menarik kembali Balotelli ke Inter Milan, setelah sempat berselisih dengan Mancini.
“Saya tak malu mengakui bahwa saya mencoba membawanya kembali ke Inter. Saya dengan senang hati akan mengeluarkan uang untuknya, tetapi Manchester City juga berhak mengatakan tidak, karena mereka ingin mempertahankannya,” papar Moratti.
Selain Balotelli, ‘blunder’ lain yang dilakukan Moratti adalah melepas Andrea Pirlo, yang juga menimba ilmu sepak bola lewat akademi Inter Milan. Pirlo menuai sukses besar setelah dilepas ke AC Milan pada 2010, meraih gelar Seri A dan Liga Champions.
Di usianya yang ke-34, Milan menyangka aksi Pirlo sudah habis, sehingga melepasnya dengan status bebas transfer ke Juventus musim lalu. Namun bersama Juve, Pirlo meraih gelar Seri A dan kini menjadi tulang punggung Timnas Italia dalam mencapai final Piala Eropa.
“Apakah saya menyesal menjual Pirlo? Kalau saya menyesal, apalagi Milan?” ia komentar.
“Dia pemain yang mengesankan, karakter dan kemampuannya dengan mudah mengejutkan semua orang, apalagi setiap gerak-geriknya ia dasarkan pada kepentingan tim, bukan diri sendiri,” tuntasnya.