INILAH.COM, Jakarta - Kedatangan tim dan pemain asing dari luar negeri untuk menggelar pertandingan eksibisi melawan Timnas dinilai hanya sekedar pencitraan saja.
Tim asing yang paling mutakhir menggelar pertandingan adalah tim dari La Liga Spanyol, Valencia. Sebelumnya, sempat datang juga klub Liga Italia Serie A Inter Milan dan beberapa pemain asing yang menggelar pertandingan eksibisi seperti Cesc Fabregas (Barcelona), Pepe dan Alvaro Arbeloa (Real Madrid).
"Pencitraan yang dilakukan saudara Djohar Arifin dengan mendatangkan tim-tim tamu dari mancanegara sama sekali tidak berhasil membangun organisasi PSSI menjadi lebih baik. Yang ada justru membuat sepakbola kita makin terpuruk," ujar Ketua Umum PSSI versi Kongres Luar Biasa (KLB) La Nyalla Mahmud Matalitti, Minggu (5/8/2012) malam.
Sikap keras La Nyalla itu adalah reaksi atas digaetnya beberapa pemain Liga Super Indonesia (ISL) ke dalam Timnas jelang pertandingan melawan Valencia, Sabtu (4/8/2012) kemarin.
Empat pemain ISL, yakni Ponaryo Astaman, Bambang Pamungkas (Bepe), Firman Utina, dan M. Ridwan bergabung dengan Timnas jelang pertandingan melawan tim Liga Spanyol, Valencia. Mereka menyusul tiga pemain ISL lainnya yang telah bergabung dengan Timnas lebaih dulu, yaitu Titus Bonai, Oktovianus Maniani, dan Patrich Wanggai.
Mereka bergabung dengan Timnas dengan alasan untuk membela merah putih. Namun, menurut La Nyalla, permasalahannya adalah seharusnya Timnas itu ditentukan oleh Joint Committee, bukan kubu Djohar Arifin sepihak.
"Ini bukan soal nasionalisme atau tidak nasionalisme. Saya berulangkali katakan, kalau timnas ditangani Joint Committee, saya yang akan meminta klub-klub ISL untuk mengirimkan pemainnya. Tetapi selama ditangani saudara Djohar Arifin, no way!" tegasnya.
Prinsip dan sikap tersebut telah didengungkannya berkali-kali kepada klub-klub ISL yang telah menggelar Kongres Luar Biasa PSSI di Ancol, Jakarta. Hasil Kongres tersebut yang mendelegitimasi Djohar Arifin, memasrikan klub ISL tidak akan memberi izin pemainnya bergabung dengan Timnas.
"Pejuangan membutuhkan keteguhan, konsistensi dan komitmen tinggi. Hal ini kita lakukan semata untuk masa depan sepakbola Indonesia yang lebih baik. Indonesia yang lebih berwibawa, bukan timnas yang menjadi olok-olokan bangsa lain," tukas La Nyalla menyindir.[yob]