INILAH.COM, Liverpool - Kebenaran dalam Tragedi Hillsborough, sebutan untuk tragedi dengan korban 96 jiwa pada semifinal Piala FA antara Liverpool dan Nottingham Forrest, 15 April 1989 terkuak.
Saat itu, ratusan ribu penonton berduyun-duyun masuk ke stadion Hillsborough untuk menyaksikan laga tersebut. Namun karena struktur bangunan yang tidak siap untuk jumlah massa sebanyak itu, kekacauan pun terjadi. Ini kian parah setelah Kepolisian Yorkshire Selatan (SYP) tidak tanggap mengantisipasi situasi ini maupun situasi pascabencana ini.
Usai tragedi paling memilukan dalam sejarah sepak bola Inggris tersebut, pihak kepolisian merilis laporan petugas koroner bahwa ke-96 orang itu tewas dalam rentang waktu terlama hanya 15 menit setelah puncak kekacauan yang terjadi pada pukul 15.00 waktu setempat.
Namun laporan dari panel independen, dipimpin oleh Uskup Liverpool, James Jones, serta ahli medis Dr Bill Kirkup menemukan fakta yang berbeda. Lemahnya kepemimpinan, tidak lancarnya komunikasi dan kurangnya perlengkapan keselamatan menjadi penyebab memburuknya tragedi ini.
Seorang saksi, Debra Martin, yang kehilangan anaknya, Kevin, kala itu berusia 15 tahun, dalam Tragedi Hillsborough, mengatakan anaknya masih hidup dalam kondisi lemah, setidaknya hingga pukul 15.28.
Seperti dinukil Daily Mail, Nyonya Martin mengungkapkan kepada Anne Williams, salah satu anggota penyelidikan independen, “Saya terus menunggui Kevin. Saya merasakan detak jantung di lehernya dan... ada detak lemah. Saya meletakkannya di lengan saya dan dia membuka matanya.”
“Saya takkan pernah melupakan tatapan mata bocah kecil itu. Dia sempat berkata, ‘Mum’ dan masih bertahan selama beberapa detik,” tuturnya.
Kini, ahli medis memprediksi kematian Kevin karena rongga udara di lehernya terhalang akibat patah tulang belakang. Kemungkinannya untuk selamat cukup besar andai tim medis bertindak sigap dengan menyusupkan selang karet sederhana ke rongga lehernya.
Panel independen mengungkap lebih jauh bahwa kepolisian menahan masuknya ambulans ke dalam stadion. Andai kala itu polisi langsung mengumumkan kode ‘bencana’ untuk mendesripsikan kekacauan itu, seluruh ambulans yang ada di kota tersebut akan dikerahkan ke Hillsborough.
Hal ini juga diperparah dengan petugas ambulans yang menyepelekan masalah ini. Dua petugas kala itu, Paul Eason dan Patrick Higgin, gagal membaca situasi darurat tersebut sehingga tidak mengaktifkan satu prosedur yang seharusnya bakal mengirimkan seluruh tenaga medis yang ada ke lokasi.
Panel independen menemukan bahwa pada pukul 15.08 waktu setempat seorang polisi meminta bantuan “satu armada ambulans”. Namun respon dari pusat mengatakan “Well, kami tidak bisa melakukan itu” karena masih ada petugas yang sedang mengamati situasi.
Pimpinan petugas ambulans Albert Page kala itu mengatakan, “Tak mungkin bisa membanjiri lokasi dengan paramedis.” Ini karena mereka tak dilatih untuk bertindak dalam situasi rusuh.
Panel juga menemukan bahwa dari 101 pernyataan dari pihak-pihak terkait, seperti kepolisian dan petugas ambulans, sebanyak 49 diantaranya diubah. Sementara itu, penghapusan sejumlah fakta atau penambahan fakta palsu yang substansial mengubah makna ditemukan dalam 16 pernyataan. Salah satu kalimat yang dihapus adalah pernyataan salah satu petugas ambulans, yang mengatakan “petugas ambulans sangat tidak mencukupi”.
Parahnya, korban tewas terakhir, Tony Bland, baru meninggal pada 1993, setelah empat tahun berada dalam kondisi koma. Namun hal ini tidak dibahas karena petugas koroner Dr Stefan Popper menjaga ‘fakta’ bahwa seluruh korban sudah tewas pada pukul 15.15.
Andai petugas kala itu lebih sigap, ada kemungkinan 41 jiwa bisa diselamatkan.