Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 19 Desember 2017 | 03:27 WIB

Cerita di Balik Panasnya Laga Liverpool Vs MU

Oleh : Reza Adi Surya | Senin, 24 September 2012 | 12:30 WIB
Cerita di Balik Panasnya Laga Liverpool Vs MU
IST
facebook twitter

INILAH.COM, Liverpool - Pertandingan penuh emosi dan tensi tinggi antara Liverpool kontra Manchester United kemarin malam masih meninggalkan cerita kurang sedap. Apa saja?

Kejadian pertama adalah saat Jonjo Shelvey terlibat adu mulut dengan pelatih MU, Sir Alex Ferguson, ketika dirinya mendapat kartu merah karena melakukan tekel keras kepada Jonny Evans. Saat hendak menuju ruang ganti, Shelvey tampak memaki pelatih asal Skotlandia itu.

Usai laga yang berakhir 2-1 untuk kemenangan MU tersebut, wasit Mark Halsey menjadi sasaran tembak fans setia Liverpool. Ia menjadi korban caci maki di Twitter. Beberapa komentar yang ditulis fans Liverpool sangat tidak layak. Komentar mereka kebanyakan menyinggung soal penyakit kanker. Halsey memang didiagnosa menderita kanker dan berjuang untuk sembuh.

Ada dua komentar yang dinilai paling buruk. Komentar pertama datang dari akun @johnwareing1. "Saya harap Mark Halsey mengidap kanker lagi dan meninggal," kicaunya, seperti dilansir Daily Mail.

Satu komentar lagi datang dari akun @lfcjohn259. "Lebih baik Mark Halsey meninggal karena kanker". Namun, tak lama kemudian, komentar tersebut dihapus dan permohonan maaf pun dilontarkan.

Kejadian lain yang terjadi di laga ini adalah ketika beberapa fans MU yang ada di Anfield berteriak, "Mana lagu Munich yang terkenal itu?" saat pertandingan baru berlangsung 13 menit saja. Fans Liverpool memang sering menyindir tragedi Munich saat pesawat yang mengangkut pemain 'Setan Merah' jatuh di 1958.

Fans Liverpool membalas usai laga. Dua fans Liverpool diduga melakukan gerakan seperti pesawat terbang menuju sudut stadion Anfield tempat fans MU berkumpul. Tak terima dengan aksi tersebut, fans MU membalas dengan nyanyian, "Selalu menjadi korban, tak pernah disalahkan" dan "Pembunuh". Kata "Pembunuh" dikaitkan dengan tragedi Heysel 1985 silam.

"Apa yang terjadi usai laga tak bisa saya komentari karena tidak mendengar atau melihatnya. Kedua tim memiliki rivalitas tinggi dan Anda tak ingin rivalitas itu berakhir karena itulah yang membuat pertandingan Liverpool dan MU menjadi yang terbesar di sepak bola Inggris," kata Brendan Rodgers, pelatih Liverpool.

"Tapi, nyanyian bernada sindiran yang dilakukan fans Liverpool atau MU, sebagai manusia yang memiliki hati pasti tidak senang mendengarnya," paparnya.

Laga tadi malam memang cukup emosional bagi fans Liverpool. Pertandingan melawan musuh bebuyutannya terjadi sepekan setelah fakta tragedi Hillsborough terungkap oleh sebuah lembaga independen bernama Hillsborough Independent Panel.

Hillsborough adalah sebuah stadion yang digunakan untuk laga semifinal Piala FA antara Liverpool melawan Nottingham Forest, 23 tahun lalu. Kala itu, membludaknya antusiasme ratusan ribu penonton tak diimbangi dengan penanganan profesional dari polisi dan petugas medis, menyebabkan 96 orang tewas karena berdesakan.

Selama 23 tahun petugas keamanan bertahan pada laporan mereka, yang menyebutkan ulah suporter sebagai biang keladi kekacauan ini. Namun awal bulan ini, tim independen yang terus melakukan investigasi menemukan fakta bahwa polisi dan petugas medis tidak menjalankan prosedur yang diperlukan, di antaranya tidak mengirimkan petugas medis dan ambulans dalam jumlah memadai, serta kehilangan kendali atas massa yang membludak, sehingga kekacauan menjadi kian parah.

Komentar

 
Embed Widget

x