Sabtu, 30 Agustus 2014 | 13:11 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Jejak Islam di Liga Eropa
Headline
Mualaf di kalangan pemain Liga Eropa meninggalkan jejak-jejak yang menjadi bagian pesatnya perkembangan Islam di benua biru itu. - Istimewa
Oleh: Widhy Purnama
Bola - Sabtu, 19 April 2008 | 11:55 WIB
INILAH.COM, London - Gelombang anti-Islam di Eropa masih terus mengalir. Tapi, para mualaf di kalangan pemain di Liga Eropa juga meninggalkan jejak-jejak yang menjadi bagian pesatnya perkembangan Islam di benua biru itu.
Nicolas Anelka, striker tim nasional Prancis bisa jadi salah satu contohnya. Dulu, dia pernah dikenal sebagai tukang protes saat membela Arsenal, Real Madrid, sampai di Liverpool. Dia paling sewot kalau terlalu lama 'diparkir' di bangku cadangan.
Tapi, ketika ia juga sering dibangkucadangkan oleh pelatih Christoph Daum saat bermain di Fenerbahce (2005-2006), Anelka bisa duduk tenang. Tak pernah ada tanda ia uring-uringan.
Begitu pula saat kembali ke Liga Primer dan bergabung dengan Bolton Wanderers. Sebagai lelaki berusia 28 tahun, ia menunjukkan dirinya sebagai pria dewasa, arif, dan bijaksana.
Sikapnya yang baik dan tutur katanya yang santun semakin kentara sejak ia bergabung dengan Chelsea di awal musim ini. Bahkan, Anelka tak pernah menunjukkan gelagat menyebalkan bagi pelatih Avram Grant yang berkebangsaan Israel.
Kabarnya, perubahan sikap dan tutur kata Anelka dipengaruhi ajaran agama barunya, yakni Islam. Saat memperkuat klub juara Turki, Fenerbahce, dia menyebutkan kalimat syahadat dan memeluk Islam. Karena perpindahan agama itu, dia mendapat nama baru Abdul-Salam Bilal.
Benarkah Islam telah mengubah perangai Anelka? Yang pasti, pemain kelahiran kota Versailles, Prancis ini, menyatakan Islam telah menjadi sumber kekuatannya di dalam maupun di luar lapangan.
"Saya menjalani karier yang berat. Saya kemudian berketetapan hati untuk menemukan kedamaian. Dan akhirnya saya menemukan Islam," tambahnya saat diwawancarai majalah Paris Match.
Selama di Chelsea, Anelka memang tak pernah menentang Grant meski sebenarnya ia tidak suka dengan formasi 4-5-1. Ia tenang jika harus duduk di bangku cadangan dan selalu memberi assist pada Didier Drogba.
Anelka bukanlah satu-satunya jejak Islam di kalangan pemain di Liga Eropa. Gelandang Prancis yang sedang bersinar, Franck Ribery menjadi mualaf sejak menikahi gadis Prancis berdarah Maroko, Wahiba. Saat itu, Ribery juga bermain di Turki, tapi untuk Galatasaray pada 2005.
Jika Anelka selalu mengarahkan kedua telunjuknya ke arah langit setelah mencetak gol, Ribery selalu menengadahkan kedua telapak tangannya ke arah yang sama setiap kali akan memasukki lapangan. Itu sebagai penunjuk identitas kemuslimannya.
Di Arsenal ada Robin van Persie, pemain asal Belanda yang kini menjadi andalan lini depan Arsenal. Dia diketahui beralih memeluk Islam sekitar dua tahun lalu mengikuti kepercayaan isterinya, Bouchra, wanita cantik keturunan Maroko.
Masih banyak pemain sepak bola muslim di Liga Eropa yang tak asing di telinga kita. Sebut saja mulai dari Zinedine Yazid Zidane, Kolo Toure (Arsenal), Yaya Toure, Eric Abidal (Barcelona), Frederik Kanoute (Sevilla), hingga Mahamaddou Diara (Real Madrid).
Belum lagi mereka yang benar-benar berasal dari negara dengan mayoritas Islam. Dalam kelompok ini ada Ahmed Momo Sissiko (Juventus), Ahmed Mido Hossam (Middlesbrough), Hossam Ghaly (Derby County/Totteham Hotspurs), Hamit Antiltop (Bayern Munich), Halil Antiltop (Shalke 04), Sulley Ali Muntari (Portsmouth), Hassan Salihamidzic (Juventus), Khalid Bouhlarouz (Sevilla), Salomon Kalou (Chelsea), El-Hadji Diouf (Bolton), Diomanssy Kamara (Fulham), dan Mohammed Kallon (Al-Ittihad).
Bagi jagat sepak bola, Kanoute punya menjadi daya tarik tersendiri. Selain dikenal dengan gol-golnya yang indah, Kanoute menjadi magnet karena identitas muslimnya. Ia pernah merogoh koceknya sebesar 510.860 euro atau setara Rp 6,3 miliar untuk menyelamatkan masjid di Sevilla agar tidak ditutup.
Tentu saja, itu bukan uang yang sedikit untuk saat itu. Kanoute menghabiskan hampir setahun gajinya untuk membeli masjid tersebut. Tak ayal lagi, kemurahan hati Kanoute itu mencengangkan banyak pihak sekaligus sangat melegakan bagi komunitas muslim, tak hanya di Sevilla, tetapi juga seluruh Spanyol.
Sukses di lapangan hijau dan menjadi kaya dari kiprahnya di Liga Eropa, Kanoute tetap dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Di kampung halamannya, ia mempunyai yayasan yang menyantuni anak yatim.
Jejak muslim di Liga Eropa telah lama menjadi bagian dari pesatnya perkembangan Islam di Eropa. Perkembangan ini telah menarik perhatian yang lebih besar di tahun-tahun belakangan. Ketertarikan ini adalah perkembangan yang terus-menerus mengenai angka populasi muslim di Eropa.
Beriringan dengan berbagai laporan akademis ini, media massa telah sering menyiarkan berita tentang Islam dan muslim bahwa penyebab peningkatan ini tidak dapat dianggap hanya disebabkan oleh imigrasi.
Bersamaan dengan kajian sosiologis dan demografis ini, kita juga tidak boleh melupakan bahwa Eropa tidak bersentuhan dengan Islam hanya baru-baru ini saja, akan tetapi Islam sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Eropa. [I4]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
2 Komentar
teddy
Minggu, 24 April 2011 | 07:47 WIB
mudah2an islam akan terus berkembang
Kamis, 14 Oktober 2010 | 00:25 WIB
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER