Find and Follow Us

Selasa, 22 Oktober 2019 | 08:07 WIB

Harusnya Pak Edy Mau Mundur Seperti Dua Tokoh Ini

Oleh : Arif Budiwinarto | Kamis, 22 November 2018 | 13:07 WIB
Harusnya Pak Edy Mau Mundur Seperti Dua Tokoh Ini
Edy Rahmayadi - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Edy Rahmayadi didesak segera mundur dari jabatan Ketum PSSI menyusul hasil negatif timas Indonesia di Piala AFF 2018. Keputusan mundur dari jabatan pernah diambil dua tokoh ini setelah negaranya gagal di sebuah turnamen, bagaimana dengan Pak Edy?

Media sosial akhir-akhir ini tengah diramaikan oleh tanda pagar #EdyOut sebagai bentuk kekecewaan warganet melihat pencapaian Timnas Indonesia yang harus tersingkir di fase grup Piala AFF 2018.

Sebagai Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi, dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab terkait hasil kurang memuaskan timnas Indonesia. Selain itu, rangkap jabatan yang dijalani Edy Rahmayadi diklaim menjadi penyebab mantan Pangkostrad itu tak bisa fokus membenahi sepakbola Indonesia. Sebagaimana diketahui, selain Ketum PSSI Edy Rahmayadi juga menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara (Sumut).

Wajar bila kemudian publik mulai gerah dengan prestasi sepakbola Indonesia yang belum menunjukkan kemajuan di bawah kepemimpinan Edy Rahmayadi. Mereka pun beramai-ramai menyatukan suara mendesak Edy Rahmayadi mundur dari jabatan PSSI karena dinilai gagal membina sepakbola Indonesia, indikasinya terlihat dari prestasi timnas di dua ajang besar, Asian Games dan Piala AFF 2018.

Mengundurkan diri dinilai sebagai sebuah langkah konkrit bentuk ketidakmampuan menghadirkan prestasi, jangan dipersempit sebagai upaya cuci tangan atas sebuah kegagalan. Diluar negeri, mengundurkan diri sudah menjadi budaya malu apabila gagal memberikan hasil yang terbaik.

Contohnya sudah banyak, bahkan negara tetangga kita, Malaysia, yang selama ini kerap dituding tak punya identitas asli karena cuma bisa klaim budaya Indonesia malah bisa memberikan contoh nyata.

25 Maret 2018, Tunku Ismail Sultan Ibrahim resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua Umum Asosiasi Sepakbola Malaysia (FAM). Penyebabnya, pencapaian Timnas Malaysia yang jeblok. Per 15 Maret 2018, Malaysia menduduki ranking FIFA ke-178. Catatan itu jadi yang terburuk sepanjang sejarah sepak bola Malaysia. Kondisi itu memicu kritikan pedas dan kekecewaan yang dilancarkan beberapa pihak. Mereka menyalahkan TMJ dalam memimpin FAM.

Perlu diketahui, sebenarnya keinginan Tunku Ismail yang juga Putra Mahkota Johor untuk mundur dari kursi Presiden FAM tidak mendapat restu. Elemen sepak bola Negeri Jiran termasuk Komite Eksekutif di FAM masih berupaya membujuk Tunku Ismail mengurungkan niatnya. Namun, Tunku Ismail bergeming. Ia tetap ingin meninggalkan jabatannya.

Contih lainnya, pada 21 November 2017, tepat setahun lalu, Carlo Tavecchio meletakan jabatannya sebagai Presiden FIGC, PSSI-nya sepakbola Italia. Ia berada di bawah tekanan untuk mundur setelah Italia dikalahkan Swedia di babak playoff yang berarti gagal berlaga di Piala Dunia 2018 Rusia. Sebuah catatan buruk dalam sepakbola Negeri Pizza dimana mereka untuk pertama kalinya absen di gelaran empat tahunan itu sejak 1978.

Dua contoh diatas dirasa sudah cukup memberikan gambaran bagaimana seorang tokoh mempertanggungjawabkan ketidakmampuannya mempersembahkan sebuah prestasi bagi negara dan rakyatnya.

Jangan salahkan rakyat dengan ekspektasi besarnya, Indonesia juga ingin merasakan juara setidaknya di Piala AFF seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Thailand. "Lah wong Indonesia negara besar kok masa di Asia Tenggara saja kalah terus," kira-kira itulah yang sering terlontar dari suporter timnas.

Kegagalan dan mengundurkan diri bukan kompilasi buruk. Bahkan, bisa menjadi contoh teladan bagi pejabat-pejabat negeri ini yang seakan tak punya malu berusaha membela diri padahal sudah terbukti bersalah dan gagal.

Berani mengikuti jejak Tunku Ismail dan Carlo Tavecchio, Pak Edy Rahmayadi?

Komentar

x