Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 Desember 2018 | 08:32 WIB

"Jika Tak Mampu Urus PSSI Mundur Saja Pak Edy"

Oleh : Arif Budiwinarto | Rabu, 28 November 2018 | 02:36 WIB

Berita Terkait

Ketua Umum (Ketum) PSSI, Edy Rahmayadi - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Ketua Umum (Ketum) PSSI, Edy Rahmayadi, disarankan mundur jika sudah tidak mampu lagi mengurus federasi. Rangkap jabatan yang dijalankan Edy dinilai membuatnya sulit mengurus sepakbola.

Edy Rahmyadi terpilih sebagai Ketua Umum PSSI periode 2016-2020 di Kongres PSSI 2016. Dua tahun masa jabatannya, mantan Pangkostrad itu memenangkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur Sumatera Utara (Sumut).

Punya jabatan ganda sempat menimbulkan kekhawatiran Edy bakal sulit fokus menjalankan tugas dan fungsinya di federasi. Sejak dilantik pada 5 September lalu, Edy lebih banyak berada di Medan, Sumatera Utara.

Presiden Madura United, Achsanul Qosasi, mengaku sudah lama menyoroti jabatan ganda Edy Rahmayadi yang akhir-akhir ini gaungnya semakin kentara setelah timnas Indonesia gagal di Piala AFF 2018.

Bahkan, Achsanul sudah pernah menyampaikan saran kepada Edy Rahmayadi untuk mempertimbangkan meletakan jabatan Ketum PSSI untuk fokus mengurus Provinsi Sumut.

"Kalau saya jelas dari dulu sudah menyarankan, dari dulu saya sudah keluarkan surat terbuka di media sosial. Kenapa diungkit sekarang, dari dulu Madura minta agar Pak Edy sebaiknya mundur. Saya tanpa melihat hasil timnas, sudah jelas sikapnya," kata Achsanul, Selasa (27/11/2018).

"Tapi kalau Pak Edy tetap merasa sanggup, silakan lanjut. Saya sudah menyarankan, kalau mau lanjut terserah Pak Edy, berarti Pak Edy sanggup," ia menambahkan.

Lebih lanjut, Achsanul menjelaskan Madura United merupakan salah satu anggota yang memilih Edy sebagai ketum di Kongres 2016. Saat itu, kata Achsanul, ia tidak percaya Edy bisa menjalankan amanat sebagai ketum federasi.

Dengan jabatan sebagai kepala daerah, Edy bakal kesulitan sulit untuk mengadakan pertemuan dengan stakeholder sepakbola nasional.

"Mengurus bola itu bukan tidak bisa dirangkap, bisa dirangkap, karena itu bagian dari pengabdian kepada sepak bola. Kenapa Madura menyarankan mundur, karena beliau adanya di Sumut."

"Kalau dia Gubernur DKI atau Menteri saya rasa gampang karena adanya di Jakarta. Jadi Pak Edy akan lebih mudah melakukan koordinasi rapat dengan Exco [Komite Eksekutif PSSI], bisa kapan saja. Tapi kalau dia di Sumut secara fisik tidak ada di Jakarta, tidak ada di dekat-dekat federasi. Itu saja," ia memungkasi.

Gerakan #Edyout kini melebar bukan hanya di media sosial, di sejumlah fasilitas publik kerap ditemukan poster, flyer sampai spanduk bertuliskan #EdyOut.

Publik sudah terlanjur kecewa dengan rangkap jabatan yang dijalankan Edy Rahmayadi sedangkan PSSI dan sepakbola nasional terabaikan.


Komentar

Embed Widget
x