Find and Follow Us

Senin, 18 November 2019 | 09:06 WIB

PSSI Perlu Potong Satu Generasi

Oleh : Arif Budiwinarto | Kamis, 21 Februari 2019 | 18:04 WIB
PSSI Perlu Potong Satu Generasi
(Foto: Inilahcom/Eusebio Chrysnamurti)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Praktik pengaturan skor yang melibatkan internal PSSI menjadi bukti shahih bobroknya tata kelola sepakbola nasional. Untuk mengembalikan kepercayaan publik PSSI perlu revolusi total atau potong satu generasi.

Kredibilitas PSSI sebagai institusi tertinggi sepakbola Indonesia berada di titik terendah pascapenangkapan sejumlah anggota Komite Eksekutif (Exco) oleh Satgas Antimafia Bola terkait kasus jual-beli hasil akhir pertandingan (match fixing).

Terbaru, polisi juga sudah menetapkan Plt Ketum PSSI, Joko Driyono, sebagai otak pengerusakan barang bukti. Jokdri mengakui dirinya dengan sadar memerintahkan tiga orang untuk merusak dan menghilangkan dokumen barang bukti yang didugan ada hubungannya dengan match fixing.

Total, sudah ada 15 orang yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Satgas dalam rentang dua bulan. Kabar yang beredar ada beberapa nama internal PSSI lainnya yang juga potensial jadi tersangka baru. Setidaknya ada empat Exco yang disebut terlibat praktik pengaturan skor.

Melihat dinamika yang terjadi, PSSI diibaratkan seperti kapal tua yang tinggal menunggu waktu untuk tenggelam. Keputusan rapat Exco, Selasa (19/2/2019) kemarin, yang bakal menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) untuk memilih ketua baru dianggap bukan solusi tepat menyelamatkan PSSI.

Presiden Save Our Soccer (SOS), Akmal Marhali, menyebut untuk mengembalikan marwahnya, PSSI perlu revolusi total bukan hanya mengganti tampuk pimpinan melalui KLB.

"Kongres Luar Biasa (KLB) adalah pilihan terbaik saat ini untuk menambal kapal yang bocor. Tapi, saya memilih lebih baik mengganti dengan kapal yang baru. Potong satu generasi!," tegas Akmal, Rabu (20/2/2019) malam kemarin.

Namun demikian, Akmal tetap mengapresiasi rencana PSSI untuk KLB. Bahkan, federasi mengutus dua wakilnya untuk berkomunikasi dengan FIFA guna meminta rekomendasi. Akmal berharap suksesi kepemimpinan PSSI bisa melahirkan pemimpin yang punya integritas dan komitmen serta jauh dari kepentingan pribadi dan golongan.

"Tapi, ganti Ketua Umum PSSI juga harus hati-hati. Jangan sampai hanya tukar casing atau ternyata kapal dimasuki penumpang gelap bahkan bajak laut yang menyalib di tikungan."

"Banyak muncul saat ini pahlawan kesiangan. Mengaku paling berjasa terhadap terbongkarnya mafia bola," ia menambahkan.

Lebih lanjut, Akmal menyebut terbongkarnya kasus pengaturan skor hingga sejauh ini merupakan bentuk sinergi nyata antara suporter dan media massa.

"Sesungguhnya yang layak disebut pejuang itu adalah para suporter yang selama ini gencar meneriakkan revolusi PSSI. Mereka pejuang tanpa pamrih. Kita patut berterima kasih pula kepada Najwa Shihab dengan (program tv) Matanajwa yang telah menjadi media paling serius mengungkapkan (kasus pengaturan skor)," pungkasnya.

Komentar

Embed Widget
x