Find and Follow Us

Kamis, 23 Mei 2019 | 08:10 WIB

Visi Rahim Soekasah Perbaiki PSSI dan Timnas

Oleh : Arif Budiwinarto | Jumat, 15 Maret 2019 | 22:30 WIB
Visi Rahim Soekasah Perbaiki PSSI dan Timnas
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Chairman Brisbane Roars, Rahim Soekasah, menyatakan kesiapannya maju sebagai kandidat ketum PSSI. Ia merasa terpanggil untuk memperbaiki organisasi PSSI serta meningkatkan kualitas timnas Indonesia.

Rahim Soekasah bukan nama baru dalam sejarah sepakbola Indonesia. Ia mengawali karier sebagai tim manajer klub UMS 80 di era Galatama. Setelah UMS dibubarkan, Rahim berkenalan lebih dekat dengan Nirwan Dermawan Bakrie (NDB) dan membentuk klub Pelita Jaya.

Pelita Jaya tak berlanjut, Rahim sempat dipercaya Nirwan mengurus Tim Primavera dan Baretti di Italia, tim muda SAG di Uruguay, hingga kini ditempatkan sebagai Chairman Brisbane Roar, klub kontestan A-League Australia milik NDB.

Sejak 2016 lalu, Rahim fokus mengurus Brisbane Roars di Australia. Namun demikian, mantan Ketua Badan Tim Nasional (BTN) itu bukan berarti menutup mata dan telinga mengenai perkembangan sepakbola nasional.

Kasus pengaturan pertandingan (match fixing) yang melibatkan sejumlah klub Liga 3 dan Liga 2 serta anggota internal PSSI tak luput dari perhatiannya.

"Terus terang saya agak terkejut dengan kejadian yang terakhir sampai ada Satgas Antimafia Bola dan ternyata bahwa ada penggurus PSSI yang kena tangkap oleh satgas," ujar Rahim dalam wawancara eksklusif dengan INILAHCOM di kediamannya di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (13/3/2019).

Di tengah maraknya penangkapan pelaku suap pertandingan sepakbola oleh Satgas Antimafia Bola muncul desakan revolusi PSSI melalui Kongres Luar Biasa (KLB) menyusul pengunduran diri Edy Rahmayadi dari kursi Ketum PSSI.

Situasi semakin pelik saat kepolisian menetapkan Joko Driyono yang diberi mandat pelaksana tugas (plt) Ketum PSSI ditetapkan sebagai tersangka perusakan barang bukti terkait dugaan pengaturan skor di Liga 1 2018.

Rapat Exco PSSI, Selasa (19/2/2019) malam, menyepakati KLB jadi pilihan terbaik dan obyektif dalam upaya bersih-bersih di tingkat federasi maupun tata kelola sepakbola nasional agar program kerja berjalan lebih baik, transparan, dan akuntabel.

Dua agenda penting yang bakal dibahas dan diputuskan dalam KLB PSSI nanti, yakni membentuk perangkat Komite Pemilihan (KP) dan Komite Banding Pemilihan (KBP), lalu penetapan jadwal pemilihan kepengurusan baru PSSI periode 2019-2024.

Melihat situasi sepakbola nasional yang tengah carut-marut, Rahim terpanggil berkontribusi mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk membenahi organisasi PSSI lewat jalur KLB.

"Waktu saya di Aussie saya kaget ada yang telpon saya. 'Pak Rahim siap gak jadi ketum (PSSI)?' Pak Rahim kan sudah puuhan tahun berkecimpung di sepakbola, apa Pak Rahim gak sedih lihat sepakbola Indonesia?'. Saya kaget juga sih, katanya mau ada KLB," ia menceritakan.

"Nah, kalau ada dukungan saya bersedia karena ini kan harus ada dukungan dari voters bukannya maju sendiri. Dan juga dari klub-klub, asprov, jika dicalonkan saya siap. Urusan sepakbola saya ngerti, sejak 1980 saya aktif di sepakbola dan PSSI, sampai sekarang masih aktif."

"Saya rasa begini, management yang harus dibenahi. PSSI tak bisa dikelola sambilan, niatnya ya untuk mengelola sepakbola. Kadang PSSI memunculkan orang-orang yang tidak-tidak, pengusaha, jenderal, pejabat, politikus, mungkin orang-orang tersebut punya jabatan bagus di birokrasi padahal di sepakbola belum tentu, jika ingin memperbaiki sepakbola maka cari orang-orang yang kompeten di sepakbola," ia menambahkan.

Meningkatkan Kualitas Timnas Indonesia

Berkaca pada pengalamannya memipin sejumlah klub dalam dan luar negeri serta pernah juga terlibat dalam sejumlah proyek timnas Indonesia di era 90-an, Rahim punya keinginan timnas Indonesia kembali disegani bukan hanya di level Asia Tenggara.

Rahim optimistis bisa mewujudkannya. Ia melihat Indonesia punya banyak pemain muda berkualitas serta potensial, tinggal bagaimana federasi mampu membuat program timnas yang berkesinambungan.

"Kita mulai pembinaan usia muda mulai dari U-16, U-19 dan dan seterusnya itu kan bagus-bagus (pemain muda) sayang kalau hilang. Jadi itu harus dijaga dengan konsolidasikan sistem kompetisi," ia menambahkan.

Klub sebagai media pembinaan pemain melalui kompetisi diharapkan bisa bersinergi dengan kepentingan timnas. Rahim tak mau ada kejadian klub yang menghambat pemainnya 'naik kelas' ke timnas.

"Jangan sampai kompetisi ini bikin PSSI gak kuat, kompetisi diperketat tetapi gak ada waktu buat timnas untuk latihan. Ini kan terbalik, harusnya program timnas yang dilihat baru kompetisi liga mengikuti."

"Saya dengar ada pemain yang dipanggil ke timnas dilarang klub. Ini tidak boleh, tujuan pemain apa sih? Memperkuat timnas, di seluruh dunia klub tidak bisa menahan pemain untuk kepentingan timnas," ia memungkasi.

Komentar

x