Find and Follow Us

Kamis, 23 Mei 2019 | 10:12 WIB

Kutukan Spanyol dan Kegagalan Guardiola di UCL

Oleh : Arif Budiwinarto | Jumat, 19 April 2019 | 17:06 WIB
Kutukan Spanyol dan Kegagalan Guardiola di UCL
(Foto: gettyimages)

INILAHCOM, Jakarta - Pep Guardiola tak pernah lagi mencicipi gelar juara kompetisi Eropa dalam tujuh tahun terakhir. Selama periode tersebut, timnya berulang kali dikandaskan 'wakil Spanyol'.

Nama Pep Guardiola mulai diperhitungkan sebagai salah satu pelatih muda paling bersinar setelah dua kali mengantarkan Barcelona juara Liga Champions Eropa (2008-09, 2010-11), tiga juara LaLiga, dua Copa del Rey, tiga Piala Super Spanyol, dua Piala Super Eropa serta dua Piala Dunia Antarklub.

Rekam jejak apik bersama Barca jadi jaminan mutu Guardiola yang membuat banyak klub berminat memakai jasanya. Pada pertengahan 2013, ia menerima tawaran melatih Bayern Munchen setelah setahun berisirahat usai meninggalkan Barca pada Juni 2012.

Di musim perdananya menangani Die Roten, Guardiola mampu membawa Munchen melaju ke semifinal Liga Champions Eropa 2013-14. Sayang, Munchen harus gagal ke final usai kalah agregat 0-5 dari Real Madrid.

Semusim berselang, Guardiola lagi-lagi berhasil meloloskan Munchen ke empat besar Liga Champions Eropa dan jumpa mantan timnya, Barcelona. Alih-alih menebus kegagalan musim sebelumnya, Munchen kembali gagal ke final karena kalah agregat 3-5 dari Los Blaugrana.

2015-16 menjadi musim terakhir Guardiola menangani Munchen. Berambisi mempersembahkan gelar Eropa sebelum hengkang, Guardiola justru harus kembali menelan kekecewaan.

Munchen memang kembali lolos ke semifinal, namun mereka lagi-lagi anti-klimaks. Setelah Real Madrid dan Barca, giliran Atletico Madrid yang menjadi batu sandungan bagi Die Roten. Meskipun agregat imbang 2-2, Atletico unggul produktifitas gol tandang.

Meninggalkan Munchen, Guardiola resmi menjadi pelatih baru Manchester City pada Juni 2016. Capaiannya bersama City di level Eropa terbilang tak sebaik di klub-klub sebelumnya.

Di musim 2016-17, City cuma sampai babak 16 besar usai disingkirkan AS Monaco yang saat itu masih diperkuat Kylian Mbappe. Monaco ke perempat final berkat keunggulan gol tandang setelah agregat imbang 6-6.

Semusim berselang, Guardiola memang berhasil mempersembahkan juara Liga Premier Inggris. Namun, prestasi tersebut gagal berlanjut di level Eropa. The Citizens terhenti langkahnya di perempat final usai kalah agregat 1-5 dari Liverpool.

Musim ini, Guardiola lagi-lagi belum mampu lepas dari kutukan 'Spanyol' di Liga Champions Eropa. Manchester City. Gol penyerang Tottenham Hotspur asal Spanyol, Fernando Llorente, menjadikan skor akhir 3-4 untuk keunggulan City pada leg kedua perempat final di Etihad Stadium, Kamis (18/4/2019) kemarin.

Meskipun menang, namun The Citizens tetap tersingkir karena Tottenham bisa mencetak lebih banyak gol di laga tandang (3 gol) setelah agregat imbang 4-4.

Sumber: Marca

Komentar

Embed Widget
x