Find and Follow Us

Rabu, 18 September 2019 | 06:14 WIB

SOS: Komdis Cari Untung dari Denda Klub dan Pemain

Oleh : Arif Budiwinarto | Senin, 17 Juni 2019 | 21:02 WIB
SOS: Komdis Cari Untung dari Denda Klub dan Pemain
Koordinator Save Our Soccer (SOS), Akmal Marhali - (Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Keputusan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan denda uang kepada klub serta pemain yang melakukan pelanggaran di Liga 1 2019 menuai kritikan. Federasi dianggap mencari untung dari sanksi yang dijatuhkan.

Komdis PSSI baru saja merilis hasil sidang terbaru pada Jumat (14/6/2019) kemarin. Isinya, ada 9 vonis berupa denda uang yang dijatuhkan kepada tim dan pemain. Denda paling rendah Rp 10 juta Rupiah yang diterima pemain Persebaya Surabaya, Elisa Yahya Basna serta gelandang Persija Jakarta, Sandi Darma Sute.

Persebaya menjadi klub dengan sanksi denda paling besar yaitu Rp. 150 juta Rupiah disebabkan aksi pendukungnya menyalakan flare dan smoke bomb saat jumpa PSIS Semarang di Gelora Bung Tomo (GBT) pada 30 Mei 2019.

Jika ditotal jumlah sanksi uang yang dijatuhkan Komdis dari hasil sidang Juni ini mencapai angka 595 juta Rupiah.

Koordinator Save Our Soccer (SOS), Akmal Marhali, mengkritik keputusan Komdis PSSI yang kerap memberikan sanksi berupa denda uang. Ia juga mempertanyakan keterbukaan federasi dalam pengelolaan uang denda tersebut.

"Total Komdis menjatuhkan denda Rp 595 juta dati sembilan vonis yang dijatuhkan tersebut. Jumlah yang lumayan buat #THR #lebaran. Mau sampai kapan Komdis berorientasi uang dalam menjatuhkan sanksi?," tulis Akmal dalam akun media sosial Instagram-nya @akmalmarhali20.

"Selain menguras keuangan klub, sanksi uang juga tidak memberikan efek jera. Apalagi, sanksinya langsung dipotong dari nikai subsidi Rp 5 miliar yang diberikan kepada klub. Wajar, bila ada opini yang mengarah sanksi uang adalah cara #PSSI paling efektif untuk memotong nilai subsidi dan raih uang."

"Lalu, kemana uang yang didapat Komdis tersebut digunakan? Inilah misteri yang tak pernah terjawab karena @officialpssi tak transparan mengelola keuangan," ia menambahkan.

Menurut Akmal yang terjadi adalah Komdis dan federasi terlalu berorientasi pada keuntungan dengan memberlakukan denda uang dalam setiap vonis yang dijatuhkan. Padahal, ada aspek yang lebih fundamental dalam membangun kesadaran terkait peraturan di kalangan suporter.

"Harusnya uang tersebut dikembalikan ke klub terhukum untuk edukasi dan sosialisasi regulasi agar kasus serupa tak terulang kedepannya. Tapi, Komdis tampaknya lebih nyaman jadi #debtcollector dibandingkan penegak hukum. Ironis!," ia menutup.

Komentar

Embed Widget
x