Find and Follow Us

Kamis, 14 November 2019 | 14:09 WIB

PWI Kecam Tindak Kekerasan pada Jurnalis Olahraga

Oleh : Arif Budiwinarto | Rabu, 23 Oktober 2019 | 15:53 WIB
PWI Kecam Tindak Kekerasan pada Jurnalis Olahraga
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Seksi Wartawan Olahraga Persatuan Wartawan Indonesia (Siwo PWI) Pusat mengecam intimidasi dan kekerasan terhadap wartawan foto yang dilakukan oknum suporter dan pemain pada saat terjadinya kerusuhan dalam pertandingan PSIM Yogyakarta melawan Persis Solo di Liga 2.

Dua orang jurnalis olahraga, Guntur Aga Putra dan Budi Cahyono, mengalami tindak kekerasaan dan intimidasi saat menjalankan tugasnya meliput pertandingan PSIM Yogyakarta dan Persis Solo di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, Senin (21/10/2019) kemarin. Guntur mendapat pukulan di bagian tengkuk dari oknum suporter sementara Budi mengalami intimidasi saat mengambil gambar insiden kericuhan antara pemain PSIM dan Persis di lapangan. Salah satu pemain dari PSIM bernama Achmad Hisyam Tolle langsung menghampiri dan meminta foto-foto dirinya segera dihapus.

Ketua SIWO PWI Pusat, Gungde Ariwangsa, menyebut intimidasi dan kekerasan terhadap wartawan foto Guntur Aga Putra dari Harian Radar Jogja dan Budi Cahyono dari Goal Indonesia merupakan tindakan melanggar hukum. Tegasnya melanggar UU Pers.

Dalam menjalankan tugasnya, para jurnalis dilindungi hukum. Pers memiliki fungsi sebagai media informasi, pendidikan, dan kontrol sosial. Maka, ancaman bagi pelanggarnya pun tak main-main, hukuman dua tahun penjara atau denda Rp 500 juta.

Bukan saja karena para wartawan dilindungi Undang Undang dalam melakukan tugasnya namun juga tindak intimidasi dan kekerasan seharusnya tidak mengotori dunia olahraga yang menjunjung tinggi nilai sportivitas dan persahabatan.

"Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Pers Nomor 40 tahun 1999 kekerasan terhadap jurnalis adalah perbuatan melawan hukum dan mengancam kebebasan pers. Semua pihak perlu mengetahui bahwa dalam dalam menjalankan tugas jurnalistik, seorang wartawan dilindungi oleh Undang-Undang Pers Nomor 40 tahun 1999," demikian pernyataan Gungde dalam rilis yang diterima INILAHCOM, Rabu (23/10/2019) siang WIB.

"Tindakan intimidasi dan kekerasan itu sangat jauh dari nilai suportivitas olahraga. Kekerasan tidak akan mengangkat prestise dan prestasi. Justru semakin menghancurkan olahraga yang dalam kasus ini sepakbola. Kejadian itu amat memalukan dan memprihatinkan karena terjadi di tengah merosotnya prestasi sepakbola Indonesia," Gungde menambahkan.

Gungde juga menyoroti perilaku oknum pemain yang melakukan intimidasi kepada para pekerja berita. Hal ini seharusnya tidak terjadi jika oknum pemain itu menjiwai semangat olahraga itu. Selain itu mereka tidak bisa menjaga peran panutan kepada masyarakat sepakbola pendukung timnya.

Tak ingin kejadian serupa terulang pada pertandingan di dalam kompetisi di bawah naungan PSSI, SIWO PWI Pusat meminta federasi memberikan sanksi berat kepada para pelaku kekerasan, sebagai bentuk komitemen menyehatkan atmosfer pertandingan sepakbola nasional.

"Demi tidak meluasnya tindak kekerasan terhadap para wartawan dan kerusuhan melanda dunia sepakbola Indonesia maka Siwo PWI Pusat mengimbau agar Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) mengusut masalah tersebut secara tuntas. Jika memang ada oknum pemain yang melanggar hukum maka perlu ditindak secara keras."

"Sedangkan tim yang suporternya melakukan ulah kekerasan diberi sanksi tidak menghadirkan penonton dalam setiap pertandingan yang diikuti," ia memungkasi.

Siwo PWI Pusat meminta agar Siwo PWI Cabang Yogyakarta bisa memberikan pendampingan kepada kedua wartawan itu bila akan meneruskan masalah itu ke ranah hukum.

Komentar

Embed Widget
x