Find and Follow Us

Selasa, 10 Desember 2019 | 19:47 WIB

Visi-Misi Calon Ketum PSSI 2019-2023

Bernhard Tak Setuju Pemain Naturalisasi di Timnas

Oleh : Arif Budiwinarto | Rabu, 30 Oktober 2019 | 17:15 WIB
Bernhard Tak Setuju Pemain Naturalisasi di Timnas
Bernhard Limbong - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Bernhard Limbong kurang setuju dengan program naturalisasi di Timnas Indonesia. Jika terpilih sebagai Ketum PSSI baru, Bernhard bakal prioritaskan pemain-pemain berkualitas dari Indonesia Timur.

Bernhard maju dalam kontestasi pemilihan Ketum PSSI periode 2019-2023. Ia akan berebut suara dengan 10 kandidat lainnya pada Kongres Pemilihan di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (2/11/2019). Dalam acara diskusi olahraga bertajuk Mencari Ketum PSSI yang Ideal di Jakarta, Bernhard yang pernah menjabat Ketua Komdis PSSI di era kepemimpinan Djohar Arifin mempertanyakan program naturalisasi di dalam skuad Timnas Indonesia.

Menurut Bernhard, memperbanyak pemain naturalisasi tidak memberikan dampak signifikan pada kualitas serta prestasi timnas Indonesia. Sejak program naturalisasi dimulai sembilan tahun lalu, pencapaian terbaik Timnas Indonesia hanya jadi finalis Piala AFF 2010.

Terbaru, Timnas Indonesia di bawah asuhan Simon McMenemy yang berisikan empat sampai lima pemain naturalisasi malah jadi lumbung gol tim lain di Kualifikasi Piala Dunia 2022. Dari empat laga yang sudah dimainkan, skuad Garuda selalu menelan kekalahan dengan jumlah 16 gol kemasukan dan baru mencetak tiga gol.

"Saya tidak suka (pemain) naturalisasi, sudah ada naturalisasi tetap kalah 0-5 (vs Uni Emirat Arab)," kata Bernhard, Rabu (30/10/2019) siang WIB.

"Buat apa kita mengandalkan naturalisasi, masa dari 200 juta penduduk Indonesia tidak bisa menemukan pemain-pemain berkualitas sampai harus ngambil orang dari luar (pemain naturalisasi)."

Ketimbang menaruh ekspektasi pada pemain-pemain naturalisasi, Bernhard bakal mengutamakan mencari pemain-pemain berbakat dari dari Indonesia Timur, khususnya Papua.

"Kalau dikasih kesempatan, saya akan utamakan sepak bola di daerah Papua. Ini penting karena di sana SDM-nya banyak. Bukan mengabaikan daerah lain karena di Papua ada kebanggaan."

"Seperti di Wamena, anak-anak di sana suka main bola. Dulu di Wamena ada klub yang namanya Persiwa, sekarang sudah tidak ada," ia menambahkan.

Dalam mendukung peningkatan kualitas pesepakbola nasional yang dibutuhkan bukan cuma faktor teknis, federasi juga harus menaruh perhatian besar pada aspek non-teknis semisal perbaikian gizi pemain.

"Kita harus pikir yang cerdas, menerapkan gizi yang bagus. Tidak bisa main bola yang benar jika gizinya tidak baik. Kita harus memulainya dari usia minim," pungkasnya.

Komentar

x